| Pemandangan Baru di Karangmalang |
|
|
|
| Ditulis oleh Yuri |
|
Di balik bentuknya yang unik dan etnik, gubuk jerami ternyata juga mengusung aspirasi dari warga Karangmalang.
Ada hal yang berbeda di Karangmalang pada Ramadhan tahun ini. Tak hanya makanan, namun barang-barang mulai dari pakaian hingga aksesoris juga dijajakan pada pengunjung yang melewati tempat ini. Hal yang semakin membuat kawasan ini berbeda adalah bentuk kios yang dipakai untuk berjualan. Di tempat ini, pedagang tidak menggunakan kios dari tenda dan kayu atau tiang, melainkan jerami yang dibentuk seperti gubuk.
Inspirasi “Ide awal dari gubuk jerami ini adalah ingin menumbuhkan daerah dengan nuansa budaya yang kental akan tradisi Islami di Karangmalang,” jelas Tomon, salah seorang panitia yang bertugas mengurusi konsep kreativitas. Menurutnya, selama ini kedua universitas yang ada di sekitar Karangmalang, yakni UGM dan UNY, tidak terlalu peduli dengan masalah mengenai kebudayaan ini. Oleh karena itu, warga Karangmalang pun mengadakan pertemuan. Selain membahas mengenai masalah budaya, mereka juga ingin mengadakan pemandangan yang baru pada bulan Ramadhan tahun ini. Hasilnya, didirikanlah gubuk jerami sebagai sarana berjualan tersebut. Warga pun sepakat untuk tidak menarik keuntungan dari sini. Apalagi sasaran utama adalah pedagang yang biasa mangkal di Karangmalang. Untuk dapat berjualan di kios ini, pedagang hanya tinggal mengganti ongkos pendirian gubuk dan membayar biaya kebersihan, keamanan, serta listrik. “Untuk kami, keuntungan itu bukan tujuan utama. Pokoknya yang penting daerah ini dapat tumbuh tanpa melupakan esensi budaya. Masalah harga pun kami cukup fleksibel dan murah, kalau memang pedagang tidak mampu membayar sesuai tarif, maka kami juga tidak akan memaksa mereka membayar penuh,” tambah Tomon. Mengenai biaya sewa yang murah tersebut juga menjadi hal positif yang dirasakan para pedagang. “Disini murah, cuma Rp300 ribu sebulan. Kalau di Amplaz (Ambarukmo Plaza, -Red),Rp300 ribu itu perhari, bukan perbulan,”ujar Yayuk, salah satu pedagang.
Pengembangan Ketika disinggung mengenai rencana pengembangan, Tomon mengatakan bahwa sejauh ini belum ada rencana pengembangan untuk diadakan setelah bulan Ramadhan. Keinginan untuk mempertahankannya meski Ramadhan telah usai pun sempat terpikir. Bahkan, pada hari Sabtu dan Minggu ingin pula ditambah dengan atraksi budaya sebagai selingan agar lebih semarak. “Tetapi, kami juga harus melihat dulu perkembangannya, apakah bagus atau tidak. Ingat, kami kan tidak mengejar profit(keuntungan, -Red),” ujar Tomon. Selain itu, Tomon pun menambahkan bahwa hal yang diinginkan oleh warga Karangmalang adalah menampilkan budaya sebagai produk yang menghasilkan, bukan mencari uang dari budaya. |





