SHOUTBOX

Polls
Menurut anda, apakah web ini bagus?
 
Featured Links:
Baner
Baner
Baner
Wijilan, Pusat Sajian Gudeg Yogyakarta PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Lulu   

Sentra Gudeg Wijilan semakin memantapkan predikat Yogyakarta sebagai Kota Gudeg.

Berbicara mengenai kuliner khas Indonesia, tentunya sajian khas kota Yogyakarta ini tak boleh terlewatkan. Sejak dulu Yogyakarta memang dikenal sebagai Kota Gudeg. Tak heran apabila terdapat sentra gudeg di kota ini, yaitu Sentra Gudeg Wijilan.

Sentra gudeg ini berada di Jalan Wijilan, terletak tepat di belakang plengkung Tarunasura yang juga dikenal sebagai plengkung Wijilan. Sekilas, memang tidak terlihat adanya sentra makanan khas Yogyakarta di balik plengkung tersebut. Sebatang plang bertuliskan “Sentra Gudeg Wijilan” menjadi penanda tunggal keberadaan satu-satunya sentra gudeg di kota ini.


Tak didesain khusus

Awalnya, Jalan Wijilan tidak didesain khusus sebagai sentra gudeg di Yogyakarta. Pada 1946, baru ada satu penjual gudeg di sepanjang jalan ini yang dikenal dengan nama Gudeg Bu Slamet. Kemudian, pada 1956 terdapat satu lagi penjual gudeg yang meramaikan Jalan Wijilan, yaitu Gudeg Yu Djum. Barulah setelah itu muncul penjual gudeg lainnya yang secara otomatis menunjukkan Jalan Wijilan sebagai sentra gudeg di Yogyakarta.

Saat ini terdapat sekitar 10 penjual gudeg di Jalan Wijilan. Banyaknya penjual yang menjajakan makanan yang sama tidak dilihat sebagai persaingan yang menyulitkan. “Di sini persaingan baik, semua sudah punya pelanggan masing-masing,” ujar Widodo yang sudah berjualan gudeg sejak 1994.

Sebagai sentra gudeg yang sudah cukup terkenal, pengunjung yang datang pun beraneka ragam. Tak hanya dari Yogyakarta, pengunjung dari kota lain seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan turut menikmati lezatnya gudeg di Jalan Wijilan. “Kalau lagi pengen gudeg, ke sekitar sini (Jalan Wijilan,-Red) aja,” tutur Erwan, pengunjung asal Surabaya yang bekerja di Yogyakarta.

Harga untuk menikmati gudeg Wijilan ini cukup terjangkau. Untuk memperoleh sepiring nasi gudeg lengkap dengan lauk telur ayam atau daging ayam kampung, Anda cukup merogoh kocek 6 ribu hingga 20 ribu rupiah. Selain itu, terdapat pula sajian gudeg dalam besek dan kendil dengan harga yang bervariasi.

Selain untuk menikmati gudeg, Jalan Wijilan rupanya juga menjadi tempat kenangan tersendiri bagi orang-orang yang pernah akrab dengan kota Yogyakarta. Maka wajar apabila kunjungan ke Jalan Wijilan dimanfaatkan untuk bernostalgia, seperti yang diungkapkan Sudarmito, penerus usaha gudeg Bu Slamet. “Biasanya yang datang orang-orang yang dulu kuliah di Yogyakarta, mereka kan kenangannya di Wijilan,” ujarnya.


Usaha mandiri

Meskipun terkenal sebagai ikon Yogyakarta untuk gudeg, ternyata Jalan Wijilan dikelola secara mandiri oleh para penjual gudeg itu sendiri. Hal itu tidak menjadi kendala bagi para penjual gudeg di Jalan Wijilan tersebut. “Penjual di sini bisa mandiri, justru yang perlu dibantu adalah masyarakat sekitar yang juga punya usaha kecil-kecilan di sini,” ujar Budiharjo, mantan ketua RT 70 RW XVII Kampung Kenekan.

Namun, sebagai sentra gudeg yang ikut memperkenalkan kota Yogyakarta, sudah sepantasnya Jalan Wijilan juga mendapat perhatian khusus dari pemerintah. “Kalau untuk modal saya bisa sendiri, tapi saya harap pemerintah ikut membantu publikasi,” ujar Widodo. Publikasi yang diharapkan misalnya memberi penunjuk arah mulai dari Malioboro hingga alun-alun utara. Hal tersebut dikarenakan banyaknya wisatawan yang ingin berkunjung ke Sentra Gudeg Wijilan tetapi belum mengetahui secara pasti letak Jalan Wijilan tersebut.

Terlepas dari hal itu, sentra Gudeg Wijilan tetap menjadi pilihan tepat untuk berkunjung ke Yogyakarta. Jadi, jika Anda tertarik untuk menikmati sajian khas dari Yogyakarta ini, pastikan Anda datang ke Jalan Wijilan antara pukul 06.00 hingga 21.00. Selamat mencicipi gudeg Wijilan!