SHOUTBOX

Polls
Menurut anda, apakah web ini bagus?
 
Featured Links:
Baner
Baner
Baner
Dari Tela Ciptakan Lapangan Kerja PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Imel, Dwi   

Tak selamanya berwirausaha itu sulit. Firmansyah Budi Prasetyo membuktikannya.

 

’Mak Krezz, Mak Nyezz’, slogan itu begitu melekat seiring kian berkibarnya Tela Krezz. Firman, begitu ia biasa disapa, berhasil mengangkat derajat singkong yang kerap disebut makanan ndeso menjadi camilan yang lebih berkelas. Kini, singkong telah melambungkan namanya menjadi salah satu pengusaha muda yang sukses. Saat ini, hampir 600 outlet dan 90 agen Tela Krezz tersebar di seluruh Indonesia berkat sistem waralaba yang ia kembangkan. Bahkan, dalam waktu dekat ini ia akan melebarkan sayapnya ke Malaysia.

 

Perjuangan panjang

Semua berangkat dari sekadar coba-coba. Inspirasi datang ketika Firman tinggal di Kalimantan Barat saat mengikuti program pertukaran pemuda Indonesia-Canada Youth Exchange Program tahun 2005-2006. Miris melihat banyaknya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berebut mencari pekerjaan ke Malaysia, Ia berniat untuk membuka usaha sendiri. “Oleh karena itu saya ingin menjadi enterpreneur (pengusaha, -Red) agar bisa membuka lapangan kerja sendiri,” ungkapnya.

Saat kembali ke Jogja, alumni Fakultas Hukum ini gemes melihat outlet tak terpakai milik ibunya. Kemudian muncullah ide Firman untuk membuat usaha berjualan dengan outlet. ''Saya bilang sama mama, outletnya saya pakai saja untuk dagang,'' paparnya. Dengan berbekal garasi rumah dan hobi makannya, Firman yang belum puas dengan usaha warung internet beralih menjadi bakul tela (penjual singkong) pada akhir 2006.

“Saya mulai mencoba untuk memasak singkong goreng yang saya beli sendiri dari pasar telo, Karangkajen. Masaknya juga baru di dapur rumah dan saya tawarkan ke tetangga-tetangga dekat rumah,” kenangnya. Tak menyia-nyiakan kesempatan, anak pasangan Prastowo dan Fajri Budi Rahayu ini mulai mengikuti pameran frenchise dan beriklan di surat kabar. Kemudian ia berjualan sendiri di depan rumahnya di Jalan Bugisan, Jogja, dengan nama Homy Tela. Pada Maret 2007, outletnya terjual untuk pertama kalinya dengan separuh harga.

 

Prinsip Do Action!

”Maksud prinsip Do Action ini kalau kamu punya ide ya jangan cuma di omongin, tapi lakukan. Biasanya orang hanya berkutat pada konsep, tetapi tidak dilakukan,” tuturnya bersemangat. Prinsip inilah yang selalu dipegang Firman untuk menjalankan usaha. Prinsip ini juga yang mengantarkannya meraih penghargaan ISMBEA 2007 dari Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Menurut Firman, di Indonesia masih banyak orang yang takut dan beranggapan bahwa untuk berwirausaha harus memiliki modal besar. Kenyataannya modal tak selalu berarti uang. Modal juga bisa didapat dari keahlian, kemauan, dan jaringan.

Ia juga mengaku sangat senang bila berjumpa dengan mahasiswa, karena bisa menularkan semangat kewirausahaan yang dimilikinya. Di bangku kuliah mahasiswa hanya mendapatkan teori semata. Untuk memperluas jaringan dan menambah pengalaman, Firman menganjurkan agar mahasiswa untuk aktif berorganisasi. Menurutnya, ilmu yang ia dapatkan dari aktivitas di luar kampus jauh lebih banyak daripada ilmu yang ia dapatkan dari bangku kuliah. “Sampai sekarang ijazah sarjana saya belum pernah terpakai. Makanya saya lebih suka disebut Sarjana Telo dibandingkan Sarjana Hukum,” gurau  peraih predikat summa cum laude ini.

 “Kita tidak akan pernah berhasil kalau tidak mencoba,” pesannya sembari menutup obrolan.

 

Comments 

  1. #1 danang
    2008-11-1400:40:01 wah mas firman dengan telonya ini mantep, telonya krezz, bisnisnya kress.. hehe…

Add comment

Tolong isi komentar yang baik ya, hargai sesama, jangan mengumpat, memaki, berkata kasar, ataupun hal-hal jelek lainnya, atau anda akan diblokir dari situs ini.

:D:lol::-);-)8):-|:-*:oops::sad::cry::o:-?:-x:eek::zzz:P:roll::sigh:


Security code
Refresh