| Penyalahgunaan Facebook Dipandang dari Kacamata Psikologi |
|
|
|
| Ditulis oleh Tifani |
|
Jejaring sosial Facebook sedang mendapat banyak sorotan. Bukan hanya karena media pertemanan ini telah menjaring banyaknya pengguna, namun juga dampak positif dan negatif yang ditimbulkannya. Yang paling baru dan cukup marak terjadi adalah modus kejahatan di dunia maya (cybercrime) via situs ini, seperti penculikan anak di bawah umur, transaksi prostitusi hingga penjualan anak dan wanita (human trafficking). Berikut cuplikan wawancara dengan Guru Besar Psikologi Sosial dalam menyikapi fenomena sosial yang sedang terjadi saat ini. Bagaimana pendapat Anda dalam menyikapi maraknya penyalahgunaan Facebook akhir-akhir ini?
Dunia teknologi merupakan media yang paling mudah untuk dimanipulasi. Bila diibaratkan layaknya pisau bermata dua, suatu saat dapat memberikan manfaat yang luar biasa bagus, tetapi juga sekaligus dapat memberi dampak yang sangat buruk. Secara positif, situs jejaring sosial ini dapat digunakan sebagai ajang menjalin silaturahmi, hubungan relasi kerja, penggerak massa dan empati masyarakat, seperti ketika kasus Prita. Namun yang harus dicermati adalah sisi negatif dari penggunaan Facebook, misal dengan adanya seorang ibu yang sudah addict dengan Facebook, sangat ketagihan dan gemar online hingga urusan keluarganya menjadi terbengkalai, anak merasa kurang diperhatikan hingga kabur dari rumah.
Apakah fenomena yang terjadi saat ini sudah pernah terjadi sebelumnya? Namun kenapa baru booming sekarang?
Kasus penculikan anak, prostitusi, dan penjualan anak juga wanita (human trafficking) sudah ada sejak dulu. Namun hal ini menjadi marak terjadi saat ini karena modus yang digunakan berbeda, yakni dunia maya yang lebih dikenal dengan istilah cybercrime. Sehingga wajar kalau kasus seperti ini menjadi booming saat ini, apalagi dengan booming-nya Facebook, serta karena internet sudah menjadi barang yang lumrah dan familiar di lingkungan kita. Kalau dibandingkan dengan dahulu tentu berbeda, karena dulu tidak mengenal internet dan belum ada Facebook, sehingga jaringan pertemanan hanya lewat sahabat pena, sehingga intensitas berkomunikasi juga tidak dapat sering seperti sekarang, yang justru dapat berpeluang menjadi kejahatan.
Bila dilihat dari sisi psikologi, masyarakat tipe apakah yang berpotensi melakukan kejahatan atau penyalahgunaan Facebook ini?
Hal itu sebenarnya tidak dapat mutlak dijawab, karena itu tergantung kasus dan tiap orang juga berbeda-beda. Namun bila diamati dari golongan orang, maka orang dengan kepribadian introvert-lah yang sering melakukan. Orang introvert adalah orang berkepribadian pemalu, tertutup, bahkan susah bersosialisasi atau bergaul secara face to face, berbeda dengan orang ekstrovet yang cenderung lebih terbuka, gampang beradaptasi, dan mudah bersosialisasi terutama face to face. Sehingga dengan media online, orang-orang berkepribadian introvert jauh merasa lebih mudah menumpahkan perasaannya, tidak merasa malu dengan orang karena tidak bertemu langsung, serta lebih gampang mengekspresikan dirinya atau apa yang dia rasakan.
Apa yang menjadi pemicu seseorang dapat melakukan tindakan seperti itu?
Hal itu juga tergantung dari masing-masing anak. Namun biasanya dipicu oleh rasa kurang kasih sayang dan kurangnya perhatian dari orang tua, bisa saja seorang anak itu ingin mendapat perhatian dari kedua orang tuanya yang terlalu sibuk mencari uang, sehingga cara pencarian perhatian itu di luar kontrol. Namun ada juga karena sang anak merasa kurang dapat bergaul dan bersosialisasi pada umumnya.
Bagaimana solusi untuk mengatasi hal tersebut?
Penggunaan Facebook sebenarnya tidak perlu dilarang kepada anak, selama orang tua dapat memposisikan dirinya sebagai sahabat anak. Dalam hal ini, orang tua janganlah mengambil jarak dengan anak, sehingga anak merasa takut terhadap orang tua. Hal inilah yang sebenarnya harus dihindari, karena bila anak takut dengan orang tuanya, dia akan merasa sungkan untuk bercerita dan merasa tidak menemukan figur pelindung dirumah sehingga cenderung mencari pelindung lain di luar rumah. Jadi orang tua harus dapat menjadi sahabat untuk anaknya, sehingga anaknya dapat bebas bercerita apa saja dan tidak ada yang ditutupi.
Tifani |





