SHOUTBOX

Polls
Menurut anda, apakah web ini bagus?
 
Featured Links:
Baner
Baner
Baner
OPINI
Penyalahgunaan Facebook Dipandang dari Kacamata Psikologi PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Tifani   

Jejaring sosial Facebook sedang mendapat banyak sorotan. Bukan hanya karena media pertemanan ini telah menjaring banyaknya pengguna, namun juga dampak positif dan negatif yang ditimbulkannya. Yang paling baru dan cukup marak terjadi adalah modus kejahatan di dunia maya (cybercrime) via situs ini, seperti penculikan anak di bawah umur, transaksi prostitusi hingga penjualan anak dan wanita (human trafficking). Berikut cuplikan wawancara dengan Guru Besar Psikologi Sosial dalam menyikapi fenomena sosial yang sedang terjadi saat ini.

Bagaimana pendapat Anda dalam menyikapi maraknya penyalahgunaan Facebook akhir-akhir ini?

 

Dunia teknologi merupakan media yang paling mudah untuk dimanipulasi. Bila diibaratkan layaknya pisau bermata dua, suatu saat dapat memberikan manfaat yang luar biasa bagus, tetapi juga sekaligus dapat memberi dampak yang sangat buruk. Secara positif, situs jejaring sosial ini dapat digunakan sebagai ajang menjalin silaturahmi, hubungan relasi kerja, penggerak massa dan empati masyarakat, seperti ketika kasus Prita. Namun yang harus dicermati adalah sisi negatif dari penggunaan Facebook, misal dengan adanya seorang ibu yang sudah addict dengan Facebook, sangat ketagihan dan gemar online hingga urusan keluarganya menjadi terbengkalai, anak merasa kurang diperhatikan hingga kabur dari rumah.

 

Apakah fenomena yang terjadi saat ini sudah pernah terjadi sebelumnya?

Namun kenapa baru booming sekarang?

 

Kasus penculikan anak, prostitusi, dan penjualan anak juga wanita (human trafficking) sudah ada sejak dulu. Namun hal ini menjadi marak terjadi saat ini karena modus yang digunakan berbeda, yakni dunia maya yang lebih dikenal dengan istilah cybercrime. Sehingga wajar kalau kasus seperti ini menjadi booming saat ini, apalagi dengan booming-nya Facebook, serta karena internet sudah menjadi barang yang lumrah dan familiar di lingkungan kita. Kalau dibandingkan dengan dahulu tentu berbeda, karena dulu tidak mengenal internet dan belum ada Facebook, sehingga jaringan pertemanan hanya lewat sahabat pena, sehingga intensitas berkomunikasi juga tidak dapat sering seperti sekarang, yang justru dapat berpeluang menjadi kejahatan.

 

Bila dilihat dari sisi psikologi, masyarakat tipe apakah yang berpotensi melakukan kejahatan atau penyalahgunaan Facebook ini?

 

Hal itu sebenarnya tidak dapat mutlak dijawab, karena itu tergantung kasus dan tiap orang juga berbeda-beda. Namun bila diamati dari golongan orang, maka orang dengan kepribadian introvert-lah yang sering melakukan. Orang introvert adalah orang berkepribadian pemalu, tertutup, bahkan susah bersosialisasi atau bergaul secara face to face, berbeda dengan orang ekstrovet yang cenderung lebih terbuka, gampang beradaptasi, dan mudah bersosialisasi terutama face to face. Sehingga dengan media online, orang-orang berkepribadian introvert jauh merasa lebih mudah menumpahkan perasaannya, tidak merasa malu dengan orang karena tidak bertemu langsung, serta lebih gampang mengekspresikan dirinya atau apa yang dia rasakan.

 

Apa yang menjadi pemicu seseorang dapat melakukan tindakan seperti itu?

 

Hal itu juga tergantung dari masing-masing anak. Namun biasanya dipicu oleh rasa kurang kasih sayang dan kurangnya perhatian dari orang tua, bisa saja seorang anak itu ingin mendapat perhatian dari kedua orang tuanya yang terlalu sibuk mencari uang, sehingga cara pencarian perhatian itu di luar kontrol. Namun ada juga karena sang anak merasa kurang dapat bergaul dan bersosialisasi pada umumnya.

 

 

 

Bagaimana solusi untuk mengatasi hal tersebut?

 

Penggunaan Facebook sebenarnya tidak perlu dilarang kepada anak, selama orang tua dapat memposisikan dirinya sebagai sahabat anak. Dalam hal ini, orang tua janganlah mengambil jarak dengan anak, sehingga anak merasa takut terhadap orang tua. Hal inilah yang sebenarnya harus dihindari, karena bila anak takut dengan orang tuanya, dia akan merasa sungkan untuk bercerita dan merasa tidak menemukan figur pelindung dirumah sehingga cenderung mencari pelindung lain di luar rumah. Jadi orang tua harus dapat menjadi sahabat untuk anaknya, sehingga anaknya dapat bebas bercerita apa saja dan tidak ada yang ditutupi.

 

 

Tifani
 
Memaknai Hari Antikorupsi sebagai Cermin Diri PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh DK   

 

Zainal Arifin Mochtar SH, Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) UGM : Memaknai Hari Antikorupsi sebagai Cermin Diri

Tanggal 9 Desember diperingati sebagai hari antikorupsi se-dunia. Tahun ini merupakan kali keenam semenjak dicetuskan pertama kali pada United Nation Convention Against Corruption tahun 2003.

Bagaimana pandangan Anda mengenai peringatan hari antikorupsi se-dunia?

Bagi saya perayaan hari antikorupsi diistilahkan sebagai cermin. Intinya kita merayakan sesuatu yang belum kita capai. Saya sering katakan pemberantasan korupsi di Indonesia terkena trademill . Kita berkeringat tapi tidak mendapatkan apa-apa, tidak bergerak cepat dan tidak beranjak. JIka berbicara apa pencapaian pemberantasan korupsi, sebenarnya koruptor tetap ada. Dari laporan kasus KPK sebanyak 36.000 hanya puluhan yang bisa dipenjara.

Bagaimana pandangan bapak mengenai gerakan-gerakan yang kita lakukan pada hari anti korupsi?

Kita bukan merayakannya, tapi harus dimaknai sebagai cermin.  Capaian kita tidak banyak. Memang ada kenaikan dari IPK dari 2,2 menjadi 2,8 tapi naiknya tidak tinggi dan tidak berarti. Bisa di ibaratkan dari tikus menjadi kelinci. Capaian tertinggi kan 10 dan kita diibaratkan belum bisa menjadi manusia. Kita tidak merayakan kemenangan, melainkan sebagai bentuk keprihatinan . Simbolisasi bahwa kita  care  terhadap pemberantasan korupsi . Jadi mari kita jadikan 9 desember ini sebagai cermin.

Selanjutnya...
 
Mengulik Rasa Nasionalisme dalam Film Indonesia PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Ontin   

Belakangan ini mulai muncul banyak film yang bertemakan nasionalisme dan jiwa kepahlawanan. Sebut saja Nagabonar, Denias, Garuda di Dadaku, King, dan Merah Putih. Para sineas Indonesia berani memunculkan sesuatu yang berbeda di tengah banjir film Hollywood, film horor, dan film romantis dalam negeri. Untuk mendiskusikan fenomena ini, SKM Bulaksumur UGM mewawancarai Yosep Anggi, seorang pengamat dan penggiat film Indonesia.

1. Apa pandangan Anda mengenai fenomena ini?

Secara kuantitas, perkembangan film kita kan cukup menggembirakan. Seminggu sekali ada film baru di bioskop. Cuma di persoalan tematik, tidak banyak yang ditawarkan sebenarnya. Kita punya sekian ratus film horor dengan yang diganti cuma judul dan hantunya, tapi juga ada film-film yang memang punya kekuatan yang secara film sendiri sudah kuat, misalnya Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku,  Merantau, atau Merah Putih. Mereka berani membuat gebrakan ketika semua film itu sama dan seragam. Itu yang kita lihat dari wilayah populer yaitu bioskop.

3. Menurut Anda, apakah hal ini merupakan perkembangan positif yang luar biasa?

Kalau luar biasa saya pikir tidak, karena ternyata kita tidak bisa belajar juga dari apa yang sudah terjadi. Kalau kita belajar dari hal yang lalu seharusnya kita bisa berpikir bahwa kita harus punya cara lain untuk menyikapi kualitas di film kita. Artinya kalau disebut perkembangan,  memang berkembang karena hidup lagi. Tetapi signifikan dan menakjubkan, tidak juga. Hanya sebagian kecil yang bisa memberikan penawaran-penawaran baru.

4. Kira-kira apa yang melatarbelakangi kemunculan film-film bertemakan nasionalisme ini?

Yang paling dominan adalah ketika penonton juga punya kesadaran untuk menonton film Indonesia. Artinya ketika film itu dibuat ada penontonnya, sehingga mulai menginspirasi untuk membuat film lagi. Tetapi kadang inspirasinya dicaplok habis-habisan dan hanya copy-paste. Di wilayah lain, muncul juga kesadaran untuk memberikan alternatif-alternatif lain. Ada keberanian dan kepercayaan diri yang cukup hebat dari para pembuat film untuk membuat film karena statusnya sebagai pembuat film.


5. Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa nasionalisme tidak dapat dipandang secara sempit dari sebuah film saja. Menurut Anda, seberapa besar pengaruh  film-film bertemakan nasional ini terhadap rasa cinta tanah air penontonnya?

Buatku setiap film, produk, atau apapun yang mampu merepresentasikan sebuah bangsa secara proporsional, bijaksana, dan jujur, itu sudah nasionalis. Justru kita tidak bisa bilang itu nasionalis ketika film membohongi penonton-penonton kita. Amerika sedemikian hebatnya membangun nasionalisme mereka melalui film dan media. Menurutku, Amerika itu membohongi banyak orang. Amerika itu menganggap dia menang di Vietnam dengan membuat film Rambo dan membuat dirinya merasa menang dalam pertempuran di Pearl Harbour dengan membuat film Pearl Harbour. Dia kalah, tetapi dia mengemasnya menjadi sebuah kemenangan. Kelihatannya memang hebat, tapi ada kebohongan di dalamnya. Itu yang tidak sehat menurutku. Kejujuran itu lebih penting ketika kita kemudian mengetahui siapa kita melalui media dan film, dari porsi yang jujur juga. Film dokumenter pemenang JAFF-NETPAC (Jogja Asian Film Festival) 2009 dari Thailand berjudul Agrarian Utopia, memiliki gambar yang bagus, tidak pretensius, dan tidak tendensius. Meskipun hanya seperti kamera yang kita taruh di daerah pertanian seperti di Delanggu, tapi film itu kuat sekali, membuat kita kagum pada para petani yang sanggup bertahan. Itu menurutku cara menumbuhkan nasionalisme yang proporsional. Film yang tidak proporsional menurutku misalnya saat petani mencangkul diberi efek slow motion diiringi lagu You Raise Me Up versi orchestra, dan sebagainya.

Kalau berbicara tetang nasionalisme, ketika film itu jujur dan penonton pun jujur mengiyakan bangsa kita seperti ini, menurutku lebih sehat daripada kita hanya ada di wilayah semu bernama nasionalisme. Walaupun setelah menonton sebuah film kita bisa menganggapnya keren, kita tetap tidak bisa menutup mata dari kenyataan bahwa di Gunung Kidul kekeringan atau di Riau terjadi pembakaran lokalisasi. Nasionalisme paling kecil adalah minimal kita tahu diri kita dan tetangga kita. Meskipun kita tidak bisa seidealis ini pada kenyatannya, tapi setidaknya wajar dan tidak membohongi.


6. Jadi menurut Mas, apakah parameter film bertemakan nasionalisme yang bagus selain tidak membohongi dan proporsional?

Punya inovasi dalam bertutur. Inovasi bisa dalam mencari cerita-cerita yang spesial atau inovasi agar film kita bisa mempunyai cara padang dan cara tutur yang beragam. Kalau kita lihat film kita sekarang seragam.


9. Film Nagabonar dijadikan materi kuliah di mata kuliah Sejarah Sosial Politik Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM dan analisa korelasi dengan nasionalisme pada mata kuliah Pendidikan Nilai Pancasila yang ada di FISIP Hubungan Internasional di UNPAR. Apakah nilai-nilai nasionalisme dalam film sebaiknya dibahas dalam kelas sejak sekolah menengah, agar semangat nasionalisme pelajar pun ikut tersulut?

Ya setuju sekali, tetapi perlu disesuaikan juga misalnya penuh kekerasan juga tidak boleh. Menurut saya, film itu adalah produk yang punya kekuatan untuk mampu didiskusikan kembali, membuat asumsi-asumsi dan penawaran nilai-nilai baru bagi penontonnya. Kalau film apapun yang cocok dan sesuai kemudian dijadikan alternatif belajar, itu bagus. Seharusnya itu juga menjadi tantangan bagi pembuat film untuk membuat film yang tidak berhenti di filmnya saja, artinya film-film yang punya kekuatan menginspirasi.


10. Apa pesan Mas untuk masyarakat pecinta film Indonesia?

Penonton itu sebenarnya punya kekuatan untuk memilih. Bagaimana cara ia memilih, adalah dengan belajar untuk memilih yang baik dan benar, antara lain dengan belajar memiliki kesadaran bermedia. Menurutku kita masih bisa berharap pada orang-orang seperti mahasiswa untuk cerdas memilih dan cerdas menonton. Oleh karena itu sangat bijaksana bahwa ketika sebuah film itu punya kekuatan untuk dipertontonkan, maka kita beri tempat alternatif seperti di sekolah-sekolah untuk diperlihatkan. Dengan demikian, orang akan memiliki kesadaran bermedia yang lebih baik. Kalau penonton punya sikap untuk memilih menonton film yang bagus, maka film yang jelek akan terkikis dan hilang. Pembuat film akan berpikir untuk membuat film yang bagus demi menarik penonton.

 
Salah Kaprah Pengertian Batik PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Yuri   

Tanggal 2 Oktober 2009 kemarin merupakan momen istimewa bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya tak benda. Seluruh masyarakat Indonesia pun beramai-ramai mengenakan batik pada hari itu. Namun, banyak pecinta dan pegiat batik menyayangkan bahwa masyarakat telah salah kaprah mengartikan batik. Mengenai hal ini, Ketua Paguyuban Batik Sekar Jagad, Dra. Ir. Larasati Soeliantoro mengemukakan opininya. Berikut adalah petikan wawancara reporter SKM UGM Bulaksumur dengan Dra.Ir. Larasati Soeliantoro.


Sebagai pecinta dan pegiat batik, bagaimana tanggapan Anda dengan ditetapkannya batik sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO?

Saya senang sekaligus sedih, karena sebenarnya yang ditetapkan sebagai warisan budaya oleh UNESCO itu hanya batik tulis dan batik cap. Tetapi, sekarang ini masyarakat Indonesia tidak tahu mengenai hal itu. Yang mereka pakai itu batik printing. Mereka tahunya, yang penting memakai batik, dengan begitu mereka merasa sudah turut serta membantu pengembangan batik.


Menurut Anda, mengapa batik printing lebih beredar luas dibandingkan dengan batik tulis dan batik cap?

Hal itu tidak lain karena masyarakat Indonesia itu bukan lagi masyarakat yang berbudaya. Mereka tidak bisa membedakan antara batik dan bukan batik. Batik printing itu kan tidak bisa disebut dengan batik, karena dicetak di atas kertas. Dan desainnya mengikuti corak batik kuno yang ada sejak jaman dulu. Masyarakat itu kan hanya tahu harganya murah saja.


Apa akibatnya bila UNESCO sampai tahu bila kebanyakan masyarakat Indonesia memakai batik printing, bukan batik tulis atau cap?

Pasti penghargaan itu akan dicabut, seperti contohnya di Jerman. Di Jerman, ada sebuah kota yang bernama Dresden. Dresden mendapat penghargaan International Herritage Site, yaitu sebuah penghargaan terhadap panorama kota tersebut yang masih kuno dan tetap terjaga kekunoannya. Namun, baru-baru ini seorang teman wartawan saya dari Jerman bercerita kalau penghargaan itu telah dicabut oleh UNESCO gara-gara Pemda kota Dresden telah membangun jalan layang di Dresden.


Apa yang harus dilakukan masyarakat Indonesia agar kejadian pencabutan penghargaan seperti di Dresden itu tidak terjadi di Indonesia?

Pertama, masyarakat harus benar-benar mencintai batik. Dimulai dari kehidupan sehari-hari yang memakai batik, tapi bukan batik printing, harus batik tulis atau batik cap. Kedua, budayakanlah membatik di antara perempuan-perempuan Jawa. Membatik itu gampang kok, asal mau belajar. Kita tidak perlu membatik untuk dijual, tetapi cukup kita membatik untuk diberikan kepada suami atau anak. Bisa juga untuk koleksi. Seperti pada waktu jaman Budi Oetomo, coba perhatikan baju mereka. Mereka menggunakan batik di atasnya, tetapi memakai bawahan celana batik. Batik itu tidak dibeli, tetapi dibuat oleh Ibu-Ibu mereka sendiri. Jaman dahulu mana ada yang berjualan batik, beda sekali dengan jaman sekarang. Saya heran kalau ada batik yang dijual dengan harga di atas satu juta. Batik apa itu? Coba kita buat sendiri, pasti hasilnya lebih bagus dan jauh lebih murah.

Selain itu, kita itu cenderung tidak konsisten. Dulu sekitar tahun 1970-an, Gubernur Ali Sadikin pernah menganjurkan agar jas wol diganti dengan jas batik. Anjuran itu diikuti dengan alasan melestarikan batik. Ada pula alasan lainnya, yaitu negara kita adalah negara tropis, buat apa memakai jas wol. Namun, anjuran itu hanya diikuti beberapa tahun saja. Lihat saja sekarang, semua orang memakai jas wol, jarang yang memaki jas batik. Cobalah kita mencontoh Filipina. Di Filipina mereka memakai jas dari serat pisang dan nanas, dari presiden hingga pejabat.


Apakah benar kalau Batik Indonesia itu memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan batik dari negara lain?

Tentu saja benar. Batik Indonesia itu memiliki ciri khas, yaitu khas warna alam. Jaman dahulu, pewarnaan batik itu dari tumbuhan yang bernama Indigo Vera. Yang menghasilkan warna biru. Oleh karena itu, batik jaman dahulu itu pasti berwarna biru. Orang-orang Eropa selalu penasaran dengan proses pewarnaan ini. Mereka lalu mengadakan penelitian mengenai hal itu, tetapi tetap saja tidak ada yang bisa membongkar rahasia pewarnaan itu. Sampai akhirnya ada orang Jerman yang berhasil meniru, tapi itu pun dari bahan kimia, bukan dari bahan alami seperti di Indonesia.


Pelestarian batik tentunya tidak hanya menjadi tugas masyarakat, namun juga pemerintah. Menurut Anda, apakah pemerintah sekarang sudah mulai member perhatian kepada kelestarian batik?

Pemerintah cenderung hanya ‘ngomong saja’. Belum ada tindakan yang berarti atau tindakan konkret mengenai pelestarian batik dari pemerintah. Buktinya sampai sekarang batik printing dan jas wol masih banyak beredar, bahkan menjamur di pasaran. Cobalah contoh pemerintah DIY yang sudah mengeluarkan keputusan untuk menyediakan 150 guru untuk mengajar proses membatik di sekolah-sekolah di DIY.

 
Mengulik Rasa Nasionalisme dalam Film Indonesia PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Ontin   

Banyak film yang bertemakan nasionalisme dan jiwa kepahlawanan seperti Nagabonar, Denias, Garuda di Dadaku, King, dan Merah Putih muncul belakangan ini. Untuk mendiskusikan fenomena ini, SKM Bulaksumur UGM mewawancarai Yosep Anggi, seorang pengamat dan penggiat film Indonesia.


1. Apa pandangan Anda mengenai fenomena ini?

Secara kuantitas, perkembangan film kita kan cukup menggembirakan. Seminggu sekali ada film baru di bioskop. Cuma di persoalan tematik, tidak banyak yang ditawarkan sebenarnya. Kita punya sekian ratus film horor dengan yang diganti cuma judul dan hantunya, tapi juga ada film-film yang memang punya kekuatan yang secara film sendiri sudah kuat, misalnya Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku,  Merantau, atau Merah Putih. Mereka berani membuat gebrakan ketika semua film itu sama dan seragam. Itu yang kita lihat dari wilayah populer yaitu bioskop.


2. Menurut Anda, apakah hal ini merupakan perkembangan positif yang luar biasa?

Kalau luar biasa saya pikir tidak, karena ternyata kita tidak bisa belajar juga dari apa yang sudah terjadi. Kalau kita belajar dari hal yang lalu seharusnya kita bisa berpikir bahwa kita harus punya cara lain untuk menyikapi kualitas di film kita. Artinya kalau disebut perkembangan,  memang berkembang karena hidup lagi. Tetapi signifikan dan menakjubkan, tidak juga. Hanya sebagian kecil yang bisa memberikan penawaran-penawaran baru.

 

3. Kira-kira apa yang melatarbelakangi kemunculan film-film bertemakan nasionalisme ini?

Yang paling dominan adalah ketika penonton juga punya kesadaran untuk menonton film Indonesia. Artinya ketika film itu dibuat ada penontonnya, sehingga mulai menginspirasi untuk membuat film lagi. Tetapi kadang inspirasinya dicaplok habis-habisan dan hanya copy-paste. Di wilayah lain, muncul juga kesadaran untuk memberikan alternatif-alternatif lain. Ada keberanian dan kepercayaan diri yang cukup hebat dari para pembuat film untuk membuat film karena statusnya sebagai pembuat film.


4. Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa nasionalisme tidak dapat dipandang secara sempit dari sebuah film saja. Menurut Anda, seberapa besar pengaruh  film-film bertemakan nasional ini terhadap rasa cinta tanah air penontonnya?

Buatku setiap film, produk, atau apapun yang mampu merepresentasikan sebuah bangsa secara proporsional, bijaksana, dan jujur, itu sudah nasionalis. Justru kita tidak bisa bilang itu nasionalis ketika film membohongi penonton-penonton kita. Amerika sedemikian hebatnya membangun nasionalisme mereka melalui film dan media. Menurutku, Amerika itu membohongi banyak orang. Amerika itu menganggap dia menang di Vietnam dengan membuat film Rambo dan membuat dirinya merasa menang dalam pertempuran di Pearl Harbour dengan membuat film Pearl Harbour. Dia kalah, tetapi dia mengemasnya menjadi sebuah kemenangan. Kelihatannya memang hebat, tapi ada kebohongan di dalamnya. Itu yang tidak sehat menurutku. Kejujuran itu lebih penting ketika kita kemudian mengetahui siapa kita melalui media dan film, dari porsi yang jujur juga. Film dokumenter pemenang JAFF-NETPAC (Jogja Asian Film Festival) 2009 dari Thailand berjudul Agrarian Utopia, memiliki gambar yang bagus, tidak pretensius, dan tidak tendensius. Meskipun hanya seperti kamera yang kita taruh di daerah pertanian seperti di Delanggu, tapi film itu kuat sekali, membuat kita kagum pada para petani yang sanggup bertahan. Itu menurutku cara menumbuhkan nasionalisme yang proporsional. Film yang tidak proporsional menurutku misalnya saat petani mencangkul diberi efek slow motion diiringi lagu You Raise Me Up versi orchestra, dan sebagainya.

Kalau berbicara tetang nasionalisme, ketika film itu jujur dan penonton pun jujur mengiyakan bangsa kita seperti ini, menurutku lebih sehat daripada kita hanya ada di wilayah semu bernama nasionalisme. Walaupun setelah menonton sebuah film kita bisa menganggapnya keren, kita tetap tidak bisa menutup mata dari kenyataan bahwa di Gunung Kidul kekeringan atau di Riau terjadi pembakaran lokalisasi. Nasionalisme paling kecil adalah minimal kita tahu diri kita dan tetangga kita. Meskipun kita tidak bisa seidealis ini pada kenyatannya, tapi setidaknya wajar dan tidak membohongi.


5. Jadi menurut Mas, apakah parameter film bertemakan nasionalisme yang bagus selain tidak membohongi dan proporsional?

Punya inovasi dalam bertutur. Inovasi bisa dalam mencari cerita-cerita yang spesial atau inovasi agar film kita bisa mempunyai cara padang dan cara tutur yang beragam. Kalau kita lihat film kita sekarang seragam.


6. Film Nagabonar dijadikan materi kuliah di mata kuliah Sejarah Sosial Politik Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM dan analisa korelasi dengan nasionalisme pada mata kuliah Pendidikan Nilai Pancasila yang ada di FISIP Hubungan Internasional di UNPAR. Apakah nilai-nilai nasionalisme dalam film sebaiknya dibahas dalam kelas sejak sekolah menengah, agar semangat nasionalisme pelajar pun ikut tersulut?

Ya setuju sekali, tetapi perlu disesuaikan juga misalnya penuh kekerasan juga tidak boleh. Menurut saya, film itu adalah produk yang punya kekuatan untuk mampu didiskusikan kembali, membuat asumsi-asumsi dan penawaran nilai-nilai baru bagi penontonnya. Kalau film apapun yang cocok dan sesuai kemudian dijadikan alternatif belajar, itu bagus. Seharusnya itu juga menjadi tantangan bagi pembuat film untuk membuat film yang tidak berhenti di filmnya saja, artinya film-film yang punya kekuatan menginspirasi.


7. Apa pesan Mas untuk masyarakat pecinta film Indonesia?

Penonton itu sebenarnya punya kekuatan untuk memilih. Bagaimana cara ia memilih, adalah dengan belajar untuk memilih yang baik dan benar, antara lain dengan belajar memiliki kesadaran bermedia. Menurutku kita masih bisa berharap pada orang-orang seperti mahasiswa untuk cerdas memilih dan cerdas menonton. Oleh karena itu sangat bijaksana bahwa ketika sebuah film itu punya kekuatan untuk dipertontonkan, maka kita beri tempat alternatif seperti di sekolah-sekolah untuk diperlihatkan. Dengan demikian, orang akan memiliki kesadaran bermedia yang lebih baik. Kalau penonton punya sikap untuk memilih menonton film yang bagus, maka film yang jelek akan terkikis dan hilang. Pembuat film akan berpikir untuk membuat film yang bagus demi menarik penonton.

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 3