| Pembalut Herbal, Pencegah Penyakit Kewanitaan |
|
|
|
| Ditulis oleh Ontin |
|
Pembalut herbal mungkin masih asing bagi sebagian besar orang. Namun, seiring semangat “kembali pada alam” dan demi alasan kesehatan, pembalut herbal pun mulai dilirik.
Kebanyakan pabrik pembalut masih mengggunakan bahan baku pulp dan kertas bekas yang didaur ulang untuk menghemat biaya produksi. Dalam proses daur ulang tersebut, banyak bahan kimia yang digunakan untuk menghilangkan bau dan mensterilisasi kuman pada kertas bekas. Salah satu zat kimia yang terbentuk secara tidak sengaja dari proses tersebut adalah Dioxin. Menurut Tampon Safety and Research Act of 1999 yang disahkan oleh Kongres Amerika, Dioxin merupakan toksin terkuat di zaman ini. Dari hasil penelitian diketahui bahwa zat Dioxin dan serat sintetis yang ada di pembalut wanita dan produk sejenis lainnya berisiko tinggi meningkatkan potensi kanker serviks, endometriosis, kemandulan, kanker rahim, kanker payudara, menurunnya kekebalan tubuh, pelvic inflammatory disease, dan toxic shock syndrome. Pembalut herbal mengandung berbagai kandungan herbal alami dan antiseptik yang berfungsi untuk mengatasi masalah wanita seperti keputihan, infeksi, gatal, dan lain-lain. Pembalut ini tidak mengandung florensen, zat pemutih, maupun zat Dioxin sehingga aman digunakan. Selain itu, pembalut herbal juga diproses dengan bio teknologi yang memberikan energi pada tubuh guna menyeimbangkan organ-organ tubuh. “Pada akhirnya, ia dapat mencegah myom, kista, kanker serviks, dan uterus dengan menyerap lendir dari vagina,” terang Sanet Sabintang, seorang perawat Jogja International Hospital. Starin (Ilmu Komunikasi UGM ‘06) merupakan salah satu konsumen pembalut herbal sejak tiga bulan yang lalu. ”Awalnya dikenalkan oleh mama yang sangat perhatian terhadap masalah kesehatan reproduksi. Apalagi di tempat kerja, banyak teman-temannya yang terkena kista,” ungkap Starin.
Kendala harga Tingginya harga pembalut herbal ini tak ayal menjadi suatu hal yang dilematis. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli sebuah pembalut herbal kurang lebih sama dengan harga satu pak pembalut biasa. Menurut keterangan Angie, harga satu pak sekitar 35 hingga 50 ribu rupiah tergantung mereknya. “Makanya, rata-rata konsumen membeli ecara eceran, kalau satu pak pada enggak berani,” tutur Angie. “Mereka (teman-teman, -Red) terkendala masalah harga, walaupun sebenarnya mereka juga takut sama penyakit-penyakit tadi,” ujar Starin. “Mahal juga ya, tapi kalau pembalut itu benar-benar terbukti aman dan sudah teruji secara ilmiah, kemungkinan besar aku akan mempertimbangkan untuk menggunakannya,” lontar Difa (Psikologi UGM ‘07). “Memakai pembalut herbal itu lebih bagus, tapi tentu saja mahal. Pakai yang biasa pun enggak apa-apa asal tetap jaga kebersihan, itu yang paling penting,” saran Sanet.
|






