|
Ditulis oleh DK
|
|
LOMBA FOTO JURNALISTIK, BLOG, DAN BERKARYA DENGAN BARANG BEKAS -AKSI KREASI #2- Dalam rangka memperingati ulang tahun Bulaksumur Pos yang ke -10, Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Bulaksumur UGM mengadakan serangkaian lomba sebagai berikut: A. Lomba Fotografi Jurnalistik Tema : Potret Anak Biaya pendaftaran : Rp 20.000,00 Fasilitas peserta : tas Aksi Kreasi #2 Lomba fotografi jurnalistik dibagi menjadi dua kategori yaitu kategori umum/mahasiswa dan pelajar. Ketentuan peserta kategori mahasiswa/umum dan pelajar: - Karya lomba foto jurnalistik kategori mahasiswa/umum dikumpulkan dalam format essay foto dengan jumlah foto antara 3-5. - Karya lomba foto jurnalistik kategori pelajar berupa foto tunggal (1 foto). - Foto dikumpulkan dalam ukuran 4R. - Dibalik foto tulis keterangan (judul dan caption foto) - Mengumpulkan CD berisi file digital dalam format jpeg. - Di dalam CD disertakan pula essay dalam format doc atau rtf (khusus untuk kategori mahasiswa/umum). - Essay ditulis dengan font times new roman 12 spasi 1,5 (khusus untuk kategori mahasiswa/umum). - Foto dikumpulkan dalam amplop coklat tertutup dengan subjek Aksi Kreasi #2 dan tulis identitas peserta. - Pengumpulan foto bertempat di SKM UGM Bulaksumur, Jalan Kembang Merak Bulaksumur B21. (barat Masjid Kampus UGM). - Pengumpulan foto dan pendaftaran peserta pada tanggal 19 April-23 Mei 2010 jam 09.00-17.00 WIB. - 10 foto terbaik dari masing-masing kategori akan dipamerkan pada acara Aksi Kreasi #2, 30 Mei 2010 bertempat di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri (eks. Purna Budaya). Kriteria penilaian: - Memenuhi unsur jurnalistik - Kesesuaian foto dengan tema. - Tidak menyinggung SARA. - Belum pernah diikutsertakan dalam lomba yang sejenis. Juri: - Hermitianta Prasetya (Fotografer SKH Radar Jogja) - Pamungkas (Dosen fotografi jurnalistik ISI) Pengumuman pemenang: - Pengumuman pemenang masing-masing kategori pada acara puncak Aksi Kreasi #2, 30 Mei 2010 bertempat di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri (eks. Purna Budaya) mulai jam 19.00 WIB. - Keputusan juri mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Hadiah untuk masing-masing kategori: Juara I : Rp 750.000,00 Juara II : Rp 500.000,00 Juara III : Rp 250.000,00 |
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Natia
|
|
Selain membawa manfaat, makanan vegetarian juga menjadi pilihan kala bosan menikmati sajian hewani. Vegetarian sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat luas. Pahamnya disebut vegetarisme yakni paham untuk menjauhi makanan hewani dan hanya memakan makanan yang berasal dari tumbuhan. Tidak dapat dipastikan kapan vegetarisme mendunia. Namun, banyak tokoh terkenal yang ternyata seorang vegetarian. Sebut saja Socrates, Leonardo Da Vinci, Thomas Alva Edison, dan RA Kartini. Pada perkembangannya, vegetarian terbagi menjadi beberapa jenis. Misalnya saja vegetarian cinta lingkungan, pola hidup, dan spiritual. Dengan adanya komunitas vegetarian, baik skala nasional maupun internasional, seperti SupreMaster dan IVS (Indonesia Vegetarian Society), masyarakat awam pun mulai mengenal pola hidup tersebut. Hal ini juga didukung dengan menjamurnya rumah makan vegetarian meski belum sebanding dengan rumah makan nonvegetarian. Banyak berkembang Di Yogyakarta terdapat kurang lebih 22 rumah makan yang menyediakan menu murni nabati ini. Mulai dari salah satu gerai di foodcourt Taman Sari Plaza Ambarukmo hingga rumah makan mungil Soma Yoga di Jalan Babarsari. Tak hanya rumah makan, minimarket dan bakery vegetarian pun telah ada di Yogyakarta. Saat ini, komunitas vegetarian di Yogyakarta memang cukup banyak. Jumlah anggotanya kurang lebih 5000-6000 orang. Jumlah tersebut berasal dari klub vegetarian yang berkantor di daerah griya pariwisata, anggota IVS, dan lain-lain. Marina, pemilik rumah makan Soma Yoga, bercerita bahwa 15 tahun yang lalu ia memutuskan untuk menjadi vegetarian setelah mengikuti meditasi. “Vegetarisme adalah doa tanpa kata-kata,” terang Marina mengutip kalimat RA Kartini. Ia bertekad membuat rumah makan murni vegetarian karena prihatin melihat banyak rumah makan vegetarian di Yogyakarta yang masih menggunakan telur dan susu. “Semata-mata saya ingin mengajak masyarakat. Coba belajar tidak membunuh, tidak makan binatang,” jelasnya. Marina termasuk sedikit orang yang benar-benar hanya mengonsumsi makanan nabati. Ia percaya, menjadi vegetarian tidak hanya membuat tubuh menjadi sehat tetapi juga menyelamatkan dunia dari pemanasan global. Rumah makan vegetarian tak hanya dikunjungi vegetarian saja. Enam puluh persen pengunjung bukanlah kalangan vegetarian. Berbagai menu ditawarkan, mulai dari spageti, nasi michia bakar, sampai gudeg khusus hari Kamis. Sejauh ini, bahan masakan dipasok dari Jakarta dan belum semuanya organik. “Saya tahun ini nanam sendiri, kayak perkebunan organik. Ini lagi proses kerjasama dengan anak UGM,” tutur Marina menambahkan. Selain menu di atas, terdapat pula aneka kue, seperti brownies dan roti yang dibuat tanpa telur. |
|
Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis oleh Yudha
|
|
Menikmati Aktivitas Bersama Hewan Kesayangan Tak hanya manusia, ternyata binatang peliharaan seperti anjing juga bisa menjadi teman untuk jalani aktivitas. Tiap sore atau Minggu pagi, banyak masyarakat yang melakukan kegiatan seperti jogging atau berkumpul bersama komunitas di kawasan Boulevard UGM. Tak mau kalah, para pecinta anjing juga mengajak anjingnya jalan-jalan di kawasan tersebut. “Nggak cuma mahasiswa UGM sih, malah justru orang luar lebih banyak yang mengajak anjingnya jalan-jalan di sini,” ungkap Hendrik (FEB ‘08), salah satu mahasiswa yang mempunyai kebiasaan tersebut. Tidak murah Bagi sebagian orang, memelihara anjing menjadi hobi dan gaya hidup yang mempunyai prestise tersendiri. Selain harga anjing yang tak murah, hobi ini juga menuntut biaya perawatan yang tak sedikit. Hal ini diamini oleh Anggita, salah satu orang yang kerap membawa anjingnya berjalan-jalan di kawasan Boulevard UGM. “Perawatan nggak murah, sekitar 1 juta-an per bulan,” ujarnya. Biaya ini kebanyakan digunakan untuk perawatan ke salon, kandang, makanan, dan vitamin. “Kalau mau anjingnya sehat harus diberi makanan yang bergizi dan berkualitas, harganya tidak murah, harus beli di pet shop,” kata Hendrik. |
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Salsabilla
|
|
Membidik segmen menengah berkantong pas-pasan, ponsel dengan model keypad QWERTY buatan Cina cukup laris di pasaran. Sejak ponsel Blackberry melejit tahun lalu, model ponsel dengan keypad QWERTY mulai marak. Ponsel model keypad QWERTY adalah sebutan untuk ponsel yang format huruf pada keypad-nya menyerupai format huruf pada keyboard komputer. Di Indonesia, Nokia sebagai salah satu pemain utama tak mau ketinggalan. Ponsel QWERTY tersebut tentu saja diberi harga yang tak murah. Sebagai respon atas tren tersebut, mulailah bermunculan ponsel QWERTY buatan Cina. Berbeda dengan merek ternama yang membidik segmen menengah ke atas, produk Cina ini menyasar kalangan menengah ke bawah. “Kalau Blackberry dan yang lain kan nggak semua orang terjangkau harganya, makanya pada lari ke sini (ponsel QWERTY buatan Cina,-Red),” jelas Yayuk, penjaga toko ponsel di Jogjatronik. Tak pelak, produk Cina ini menjadi sasaran mereka yang ingin tetap mengikuti tren tetapi berkantong pas-pasan. “Harganya lebih murah dibandingkan hape QWERTY BB (Blackberry,-Red) dan Nokia,” tutur Uswatun (Administrasi Negara ’08) seorang pemakai ponsel QWERTY buatan Cina. “Enam ratus ribu (rupiah,-Red) juga udah dapet,” ujar Yayuk. Ia mengakui ponsel QWERTY buatan Cina itu memang lebih banyak terjual dibanding merek terkenal dengan model sejenis. “Mungkin karena harganya murah,” tambahnya. Harus diakui bahwa kualitas merupakan salah satu faktor penentu harga. Di balik harganya yang murah, ponsel QWERTY buatan Cina tentu menyimpan sejumlah kelemahan. “Fitur jelas kurang lengkap dibanding BB atau Nokia,” terang Uswatun. Hal senada diungkapkan Nurul (Farmasi ’09), ”Kekurangannya nggak ada send item.” Sementara Yayuk menyoroti faktor keawetannya, ”Yah, namanya juga buatan Cina, nggak terlalu tahan banting,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa keawetan produk tersebut sangat tergantung pada perlakuan penggunanya. Tak selamanya kualitas berbanding lurus dengan harga. Dengan harga murah, kekurangan-kekurangan yang disebutkan rasanya masih dapat diterima. Tetapi tetap diharapkan akan muncul produk yang lebih berkualitas dengan harga bersaing. Salsabilla |
|