|
Jogja Green Expo, Serukan Peduli Lingkungan |
|
|
|
|
Ditulis oleh Tanti
|
|
Senin, 08 Juni 2009 09:56 |
|
Isu lingkungan yang sulit diselesaikan, menginspirasi Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi UGM untuk menyelenggarakan Jogja Green Expo 2009. Jogja Green Expo 2009 yang digelar 28-30 Mei lalu merupakan kegiatan untuk memperingati Dies Natalis Jurusan Teknik Geologi ke-50 dan ulang tahun HMTG ke-47. Secara khusus, acara ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai lingkungan. Acara ini terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu pameran mengenai lingkungan di Taman Pintar, pameran dan workshop fotografi bertema alam, dan seminar lingkungan di area Taman Budaya. Dalam pameran lingkungan hidup, panitia membuka beberapa stan yang bekerja sama dengan beberapa komunitas peduli lingkungan seperti WALHI, Sanggar Anak Alam, dan Jejaring Pengelola Sampah Yogyakarta. Selain itu, Jurusan Teknik Fisika dan Teknik Mesin UGM juga berpartisipasi dengan memperkenalkan inovasi-inovasi teknologi ramah lingkungan temuan mereka. Pada pameran dan workshop fotografi, panitia mengundang fotografer profesional Kristupa Saragih sebagai pengisi acara. Sementara pada seminar lingkungan, panitia menghadirkan tema mengenai energi alternatif dengan mengundang ahli dari Pertamina dan Geo Dipa Energi. Menurut ketua HMTG, Alfiadi (Teknik Geologi UGM ’06), acara ini disambut positif oleh pengunjung, tak hanya orang dewasa, namun juga anak-anak. Begitu pula yang disampaikan salah satu pengisi acara, Putri, perwakilan dari WALHI. Putri merasa puas dengan reaksi pengunjung yang tampak antusias dalam acara tersebut. "Anak-anak yang hadir menjadi tertarik dengan isu lingkungan karena media kampanyenya berupa film animasi," ujar Putri. Dwi (UPN’04), salah seorang pengunjung, mengungkapkan bahwa acara ini bagus dan berguna. Namun, beberapa materi yang ditampilkan dalam pameran terkesan rumit bagi kaum awam, misalnya mengenai sistem pengolahan energi. Secara keseluruhan, Alfiadi merasa acara ini cukup sukses dalam mencapai tujuan untuk meningkatkan kepekaan masyarakat. Karena itu, ke depannya ia berharap bisa mengadakan acara serupa, yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
|
|
Rombongan Artis Melenggang ke Senayan |
|
|
|
|
Ditulis oleh Fajar
|
|
Senin, 08 Juni 2009 09:52 |
|
Keberhasilan beberapa artis yang dipastikan dapat melenggang ke Senayan menimbulkan banyak sikap skeptis di masyarakat. Banyak orang merasa artis yang terpilih sebagai anggota DPR tidak akan bekerja maksimal karena mereka tidak mempunyai dasar sosial dan politik. Mengapa artis yang notabene bukan politikus banyak berhasil menjadi anggota DPR? Mengenai hal ini, Drs Kuskridho Ambardhi MA Phd, dosen Ilmu Komunikasi UGM sekaligus peneliti senior di Lembaga Survei Indonesia akan menyampaikan pendapatnya. Bagaimana mekanisme perekrutan caleg artis di partai politik? Ada beberapa mekanisme yang dilakukan partai untuk menentukan calonnya terutama artis. Yang pertama artis menghubungi sendiri karena memang tertarik untuk maju sebagai caleg. Alasannya bisa macam-macam dari mencari uang, dunia hiburan yang sudah tidak menjanjikan lagi, sampai memang benar-benar ingin mengabdi pada bangsa. Mekanisme yang kedua, dihubungi oleh partai politik agar bersedia menjadi caleg parpol tersebut. Tujuannya tentu saja untuk menaikkan suara partai politik di pemilu legislatif. Dengan menggunakan artis diharapkan dapat mendapatkan suara secara cepat pada pemilu legislatif, sekaligus menaikkan nilai awar partai sebelum pemilu presiden. Mengapa cukup banyak artis yang akhirnya menjadi anggota DPR walaupun tidak mempunyai dasar politik? Salah satu faktor yang paling penting dari menangnya banyak artis dalam pemilu legislatif adalah faktor ketenaran mereka yang lebih dibanding calon lain. Hal itu berakibat mereka tidak perlu bersusah payah mengenalkan diri mereka kepada masyarakat. Kepopuleran mereka di atas para politisi lain, dan masalah “keterkenalan” sangat membantu merebut suara masyarakat. Banyak masyarakat yang pada akhirnya cenderung menyontreng tokoh yang dikenalnya. Menurut Anda, apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah diragukannya kualitas dari artis-artis yang baru akan menjabat sebagai anggota DPR? Pada dasarnya tidak semua artis itu jelek. Banyak juga artis yang bagus dan mempunyai latar belakang sosial dan politik yang baik. Contohnya adalah Rieke Dyah Pitaloka. Sebelum maju sebagai caleg dalam pemilu legislatif dia banyak menyibukkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial dan politik. Dia berusaha mendekatkan diri kepada masyarakat. Untuk memperbaiki kualitas artis yang memang masih baru menjabat nantinya sebagai legislatif dapat dilakukan dengan dua program. Yang pertama, program peningkatan kualitas dari partai itu sendiri. Partai membekali artis yang menjadi legislatif dengan kemampuan-kemampuan yang diperlukan selama menjabat sebagai anggota DPR nantinya. Yang kedua adalah learning by doing yang dilakukan DPR. Jadi, DPR memberikan semacam pelatihan kepada anggota legislatif agar dapat mengemban aman rakyat secara maksimal. Namun cara ini lebih boros karena menghabiskan anggaran negara. Jadi sebenarnya yang paling efisien yaitu dengan melakukan perbaikan kualitas lewat partai.
|
|
|
Menggenggam Trisakti Kemerdekaan dalam Hari Kebangkitan Nasional |
|
|
|
|
Ditulis oleh Ontin
|
|
Senin, 08 Juni 2009 09:53 |
|
Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap tanggal 21 Mei menjadi titik tolak perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih identitas kebangsaannya. Namun, makna Harkitnas itu terasa belum lengkap tanpa Trisakti Kemerdekaan. Apakah Trisakti kemerdekaan itu, dan bagaimana keterkaitan antara kearifan lokal dan globalisasi dalam Harkitnas? Mengenai hal ini, Bapak Drs Djoko Pitoyo, dosen fakultas Filsafat UGM akan memberikan opininya. Menurut Anda, apa arti kebangkitan nasional secara lebih dalam? Makna kebangkitan nasional pada awalnya ialah kesadaran diri bangsa Indonesia bahwa mereka telah hidup bersama dalam kesamaan historis dan perasaan senasib sepenanggungan. Kesadaran itu kemudian menjadi penggugah untuk bersama bangkit berdiri tegak unjuk identitas atau unjuk jatidiri, sebagaimana bangsa-bangsa lain yang telah eksis di muka bumi ini. Bagaimana pemaknaan Harkitnas pada masa sekarang, apakah masih tetap sama? Kini, nilai-nilai Harkitnas selayaknya dijadikan cermin bagi setiap komponen bangsa untuk tetap memelihara kesadaran kebangsaan. Itu dilakukan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam konteks hidup bersama. Jatidiri bangsa haruslah tetap dijaga harkat dan martabatnya. Janganlah kita menjadi “bangsa sudra” di muka bumi. Apa yang sebaiknya dilakukan bangsa Indonesia dalam menghadapi globalisasi dunia? Globalisasi cenderung mendesakkan “penyeragaman paksa” pada banyak aspek kehidupan. Ini harus dilawan dengan kekayaan kearifan dan kecerdasan lokal (local wisdom and local genius) yang kita miliki. Kita tidak perlu kecil hati atau minder, kita memiliki banyak kehebatan yang tidak dimiliki bangsa lain. Hanya saja, acapkali kita keblinger dengan apa pun yang berbau “luar”, seperti sekolah, gaya hidup, cara hidup, intelektualitas, bahkan moralitas. Menurut Anda, bagaimana cara yang seharusnya dilakukan oleh bangsa Indonesia, mahasiswa pada khususnya, untuk memperingati kebangkitan nasional? Bangsa Indonesia, lebih-lebih orang muda, terlebih lagi mahasiswa, dalam memperingati Harkitnas, hal pertama yang harus dilakuakan ialah mencintai dan bangga pada jati diri bangsa Indonesia. Hal kedua, introspeksi. Apa yang telah dan sedang dilakukan untuk kebesaran dan keagungan bangsa ini? Cetaklah prestasi, tunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia layak menjadi bangsa terhormat karena martabatnya dijaga dengan karya dan moralitas yang terpuji. Dalam konteks kebangsaan lebih luas, ingatlah wasiat Bung Karno. Bangsa ini akan tegak berdiri, merdeka dalam kesejatiannya, bila bangsa Indonesia telah menggenggam Trisakti Kemeredekaan. Yaitu, berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian nasional dalam bidang kebudayaan. Nah, anak muda, mari kita introspeksi diri, sudahkah kita capai Trisakti itu?
|
|
Aksi Kreasi, Bebaskan Ekspresi Dan Kreasimu |
|
|
|
|
Ditulis oleh Nindi
|
|
Senin, 08 Juni 2009 09:49 |
|
Kemeriahan ulang tahun Bulaksumur Pos tak berhenti pada ultah internal saja. Minggu (24/5) bertempat di halaman Gedung Koesnadi Hardjosoemantri, Bulaksumur Pos menggelar rangkaian acara eksternal bertajuk “Aksi Kreasi: Bebaskan Ekspresi dan Kreasimu”. Acara ini terdiri dari lomba mural tas, pameran produk industri kreatif, talkshow industri kreatif, serta dimeriahkan penampilan band. Lomba mural tas menjadi acara utama. Lomba ini membebaskan peserta untuk menuangkan kreasinya melalui lukisan, di atas tas yang telah disediakan. Lomba yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 15.00 ini mampu menarik perhatian masyarakat. Tak hanya mahasiswa, tetapi juga siswa-siswa SD sampai SMA. Terbukti, pendaftaran yang dibuka dari tanggal 7-20 Mei 2009 telah menghasilkan 200 peserta. Bahkan, panitia mengaku kewalahan dengan banyaknya pendaftar di hari terakhir pendaftaran. “Kita sudah kewalahan. Di saat lomba pun masih ada yang mau daftar,” ungkap Ipul, project manajer Aksi Kreasi. Dengan fasilitas tas kanvas, cat, air mineral, sertifikat, dan doorprize, peserta merasa puas. Apalagi hadiah yang diperebutkan berupa tabungan dan papertoys. “Aku seneng banget. Acaranya bagus dan sangat menarik,” ungkap Lina, salah seorang peserta lomba. Pengunjung pameran pun juga merasakan kepuasan. Stan pameran seperti Mulyakarya, Bajigur Magazine, Tetes, Kaos Lukis, aneka makanan, dan SKM UGM Bulaksumur sendiri, mampu menyedot perhatian pengunjung. Menurut Dera, salah satu pengunjung pameran, stan-stan itu menjadi nilai tembah dari acara. “Aku suka acaranya, banyak stan pameran dan makanan. Acaranya keren banget. Pameran industri kreatifnya bagus dan menarik. Lomba muralnya rame, senang melihatnya,” ujar Dera. Talkshow industri kreatif sekaligus launching Telisik, jurnal popular SKM UGM Bulaksumur, juga berlangsung meriah. Meski sebelumnya sempat turun hujan lebat, animo peserta talkshow tak pudar. Pembicara talkshow dari Mulyakarya dan Bajigur Magazine mampu menyedot perhatian peserta lomba mural yang awalnya datang hanya untuk menunggu pengumuman lomba. Pada puncak acara, diumumkan pemenang lomba mural tas. Juara I diraih Imam Santoso, juara II Agung Prasetya, dan juara III Irfan Muhammad. Selamat kepada para pemenang! Semoga bisa terus menghasilkan karya-karya yang kreatif.
|
|